Barangsiapa yang mendapati suatu perselisihan, maka ia harus berpegang dengan Sunnah Nabi shallalla

  • Saya tidak mengatakan diri saya sebagai seorang ahli 'ilmu karena memang saya bukanlah ahlu 'ilmu, melainkan hanya penuntut 'ilmu . maka Janganlah engkau MENIMBA dan BERTANYA tentang 'ilmu kepadaku. Janganlah pula jadikan postingan-postingan saya sebagai rujukan 'ilmu bagi kalian. Tapi timbalah dan tanyalah 'ilmu kepada ahlinya. Apa-apa yang kupostingkan di website ini yang berisikan kebenaran, maka terimalah. Apa-apa yang bertentangan dengan kebenaran, maka tolaklah, dan luruskanlah dengan 'ilmu dan hujjah.

Bukti Cinta

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

(Tafsiir Ibni Katsiir I/384)

Minggu, 20 Oktober 2013

KEAGUNGAN DAN KEKUASAAN ALLAH Azza Wa Jalla

[KEAGUNGAN DAN KEKUASAAN ALLAH Azza Wa Jalla ]

Al Qur'an Online

KITAB TAUHID   BAB 67 HAL 274 - 281

Firman Allah Subhanahu wa-ta'ala :
“Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak
mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang
sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam
genggaman-Nya pada hari kiamat, dan semua langit
digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan
Maha Tinggi Allah dari segala perbuatan syirik
mereka.” (QS. Az zumar: 67).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Salah seorang pendeta
Yahudi datang kepada Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam seraya berkata:(dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan
langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air
di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh
makhluk di atas satu jari, kemudian Allah berfirman:
“Akulah Penguasa (raja)”, 
maka Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam tertawa
sampai nampak gigi geraham beliau, karena
membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian
beliau membacakan firman Allah:
“Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak
mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang
sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam
genggaman-Nya pada hari kiamat.” (QS. Az Zumar: 67).

Dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan:
“Gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari,
kemudian digoncangkannya seraya berfirman: “Akulah
penguasa, Akulah Allah.”

Dan dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan:
“Allah letakkan semua langit di atas satu jari, air
serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas
satu jari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada
hari kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya, dan
berfirman: “Akulah penguasa, mana orang-orang yang
berlaku lalim? Mana orang-orang yang sombong?
Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu
diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman: “Aku lah
Penguasa, mana orang-orang yang berlaku lalim? Mana
orang-orang yang sombong?

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata:
“Tidaklah langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak
Tangan Allah Ar Rahman, kecuali bagaikan sebutir biji
sawi diletakkan di telapak tangan seseorang di antara
kalian.”

Ibnu Jarir berkata: “Yunus meriwayatkan kepadaku
dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin
Aslam), ia berkata: Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam  bersabda:
“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah
bagaikan tujuh keping Dirham yang diletakkan di atas
perisai.”

Kemudian Ibnu Jarir berkata: 
“Dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu
berkata: "Aku mendengar 
Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Kursi yang berada di Arsy tiada lain hanyalah
bagaikan sebuah gelang besi yang dibuang ditengah
tengah padang pasir.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:“Antara langit yang paling bawah dengan yang
berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit
jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dan Kursi
jaraknya 500 tahun, antara Kursi dan samudra air
jaraknya 500 tahun, sedang Arsy itu berada di atas
samudra air itu, dan Allah Subhanahu wa-ta'ala 
berada di atas Arsy, tidak
tersembunyi bagi Allah suatu apapun dari perbuatan
kalian.” (HR. Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari
Aisyah, dari Zarr, dari Abdullah bin Mas’ud).

Atsar ini diriwayatkan dari berbagai macam jalur
sanad, demikian yang dikatakan oleh imam Ad Dzahabi.
Al Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah
Shalallaahu 'Alaihi Wasallam  bersabda:“Tahukah kalian berapa jarak
 antara langit dan bumi? Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih
mengetahui”, beliau bersabda: “Antara langit dan bumi
itu jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara langit
yang satu dengan yang lain jaraknya perjalanan 500
tahun, sedangkan tebalnya setiap langit adalah
perjalanan 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan
Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra dengan
permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi,
dan Allah Subhanahu wa-ta'ala di atas itu semua, dan tiada yang
tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan
anak Adam.” ( HR. Abu Daud dan ahli hadits yang lain).

Kandungan bab ini:

1. Penjelasan tentang ayat tersebut di atas (123).
----------------------------------
(123) Ayat ini menunjukkan keagungan dan 
kebesaran Allah Subhanahu wa-ta'ala , dan kecilnya 
seluruh makhluk dibandingkan dengan
Nya; menunjukkan pula bahwa siapa yang berbuat
syirik, berarti tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang sebenar-benarnya.

2. Pengetahuan tentang sifat-sifat 
Allah Subhanahu wa-ta'ala ,
sebagaimana yang terkandung dalam hadits
pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang
Yahudi yang hidup pada 
masa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam ,
mereka tidak mengingkarinya dan tidak
menafsirkannya dengan penafsiran yang
menyimpang dari kebenaran.

3. Ketika pendeta Yahudi menyebutkan tentang
pengetahuan tersebut kepada 
Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam , beliau
membenarkannya, dan turunlah ayat Al Qur’an
menegaskannya.

4. Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam tersenyum
 ketika mendengar
pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh
pendeta Yahudi.

5. Disebutkan dengan tegas dalam hadits ini adanya
dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit
itu diletakkan di tangan kanan-Nya, dan seluruh
bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari
kiamat.

6. Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain
itu adalah tangan kiri-Nya.

7. Disebutkan dalam hadits keadaan orang-orang
yang berlaku lalim, dan berlaku sombong pada
hari kiamat.

8. Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di
telapak tangan Allah itu bagaikan sebutir biji
sawi yang diletakkan di tangan seseorang.

9. Kursi itu lebih besar dari pada langit.

10. Arsy itu lebih besar dari pada Kursi.

11. Arsy itu bukanlah Kursi, dan bukanlah samudra
air.

12. Jarak antara langit yang satu dengan langit yang
lainnya perjalanan 500 tahun.

13. Jarak antara langit yang ketujuh dengan Kursi
perjalanan 500 tahun.

14. Jarak antara Kursi dan samudra perjalanan 500
tahun.

15. Arsy sebagaimana dinyatakan dalam hadits,
berada di atas samudra tersebut.

16. Allah Subhanahu wa-ta'ala berada di atas Arsy.

17. Jarak antara langit dan bumi itu perjalanan 500
tahun.

18. Tebal masing-masing langit itu perjalanan 500
tahun.

19. Samudra yang berada di atas seluruh langit itu,
antara dasar dengan permukaannya, jauhnya
perjalanan 500 tahun, dan hanya Allah lah yang
maha mengetahui.

Segala Puji hanya milik Allah semata, Rabb sekalian
alam, semoga shalawat serta salam senantiasa
dilimpahkan kepada junjungan 
Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam ,
keluarganya serta para sahabatnya.

Tidak ada komentar:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya ( An Nisa : 48)"

Nasehat Imam Empat Mazhab," Jangan fanatik kepada kami "!

Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)

Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).

Selengkapnya klik DI SINI

Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah kita taqlid buta kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?


Ilmu & Amal

Tuntutan ilmu adalah amal & tuntutan amal adalah ilmu . Amal hati/batin dinilai dengan keikhlasan & amal lahir dinilai dengan ketaatan mengikuti sunnah Rasul

Tauhid

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran- lembaran telah kering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata,” Hadist ini hasan shahih). ☛ ☛ ☛ “Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”(Dalam riwayat selain at-Tirmidzi)

Tes Gannguan Jin Dalam Tubuh

Sesungguhnya syirik itu melenyapkan amalan dan menyebabkan kekal di dalam neraka

Gerakan Sholat Yang Benar

www.loogix.com. Animated gif