Barangsiapa yang mendapati suatu perselisihan, maka ia harus berpegang dengan Sunnah Nabi shallalla

  • Saya tidak mengatakan diri saya sebagai seorang ahli 'ilmu karena memang saya bukanlah ahlu 'ilmu, melainkan hanya penuntut 'ilmu . maka Janganlah engkau MENIMBA dan BERTANYA tentang 'ilmu kepadaku. Janganlah pula jadikan postingan-postingan saya sebagai rujukan 'ilmu bagi kalian. Tapi timbalah dan tanyalah 'ilmu kepada ahlinya. Apa-apa yang kupostingkan di website ini yang berisikan kebenaran, maka terimalah. Apa-apa yang bertentangan dengan kebenaran, maka tolaklah, dan luruskanlah dengan 'ilmu dan hujjah.

Bukti Cinta

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

(Tafsiir Ibni Katsiir I/384)

Tampilkan postingan dengan label Kalimat Bermakna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimat Bermakna. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agar Tidak Terjerumus ke Dalam Lembah Maksiat


Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia. Amma ba’du.
Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
***
Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah,http://www.ar.islamhouse.com
Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi
dari : Artikel http://www.muslim.or.id

Jumat, 05 September 2014

“Wasiat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhu-

Abu Khaulah Zainal Abidin
Wahai para orang tua….
Pernahkah kau katakan kepada anak-anakmu: (-“Jagalah hak-hak ALLAH, niscaya ALLAH pun akan menjaga kalian.“-) ?. Kemudian apa kata mereka setelah mendengar wejangan ini? Mengertikah mereka, apa maknamenjaga ? Ingat! Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyampaikan kalimat ini kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhu-, yang usianya ketika itu belum mencapai 10 tahun. Dan Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- mengerti makna kiasan -yang sangat indah dan halus- tersebut yang artinya menjaga perintah dan larangan ALLAH.
Pernahkah kau katakan kepada anak-anakmu:(-“Jika berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika meminta pertolongan, mintalah kepada ALLAH.”-) ?Melalui lafadznya saja sudah dimaklumi, bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bukan sedang memerintahkan Ibnu Abbas berdo’a – melalui wasiat ini-, bukan pula sedang mengajarkannya, tetapi Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- sedang mengajarkan arti Tauhid dan menanamkannya.
Ya, do’a adalah inti dari ibadah, karena dengan berdo’a seseorang secara tak langsung telah mengakui akan adanya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Sebab, mustahil seseorang akan berdo’a atau meminta jika yang diserunya itu tak ia yakini ada. Karenanya, dengan mengajari anak berdo’a, artinya kita telah menanamkan kepadanya keyakinan akan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa Yang Mencipta, Memiliki, dan Mengatur alam semesta ini.
Ya, do’a adalah inti dari ibadah, karena dengan berdo’a seseorang secara tak langsung telah mengakui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu Maha Mendengar dan Mengetahui. Sebab, mustahil seseorang akan berdo’a dan meminta manakala ia tak meyakini bahwa yang diserunya itu mampu mendengar dan memahami, sebagaimana tak mungkinnya seseorang mengutarakan hajat dan maksudnya kepada yang tak mampu mendengar dan mengetahui isi pembicaraannya. Karenanya, dengan mengajari anak berdo’a, artinya kita telah menanamkan kepadanya keyakinan bahwa ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa itu Maha Mendengar dan Mengetahui.
Ya, do’a adalah inti dari ibadah, karena dengan berdo’a seseorang secara tak langsung telah mengakui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu Maha Kaya dan Memberi Kekayaan. Sebab, mustahil seseorang akan berdo’a dan meminta manakala ia tak meyakini bahwa yang diserunya itu kaya dan mampu memberikan kekayaan, sebagaimana tak mungkinnya seseorang meminta kepada yang miskin dan tak mampu membagi kekayaannya. Karenanya, dengan mengajari anak berdo’a, artinya kita telah menanamkan kepadanya keyakinan bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu Maha Kaya dan Memberi Kekayaan.
Ya, do’a adalah inti dari ibadah, karena dengan berdo’a seseorang secara tak langsung telah mengakui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu Maha Memberi dan Mengabulkan Do’a. Sebab, mustashil seseorang akan berdo’a dan meminta manakala ia tak meyakini bahwa yang diserunya itu mau dan mampu memenuhi permintaannya, sebagaimana tak mungkinnya seseorang meminta kepada yang terkenal pelit atau bakhil. Karenanya, dengan mengajari anak berdo’a, artinya kita telah menanamkan kepadanya keyakinan bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu Maha Memberi dan Mengabulkan Do’a. Dan keyakinan ini merupakan pula tanda baik sangkanya seorang hamba kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.
Ya, do’a adalah inti dari ibadah, karena dengan berdo’a seseorang secara tak langsung telah mengakui kelemahannya dan butuhnya ia akan ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa. Sebab, mustahil seseorang akan berdo’a dan meminta manakala ia merasa mampu memenuhi segala kebutuhannya dan mengatasi segala masalahnya tanpa bantuan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Karenanya, dengan mengajari anak berdo’a, artinya kita telah menanamkan kepadanya keyakinan bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa- lah tempat bergantung dan satu-satunya zat yang layak diibadahi.
Ya, do’a merupakan cara paling ampuh untuk menanamkan Tauhid kepada anak. Bagaimana dengan anak-anak kita? Sudahkah mereka pandai dan terbiasa berdo’a ? Atau sudahkah kita mengajarkan mereka do’a-do’a yang bisa mereka ucapkan di sepanjang siang dan malam mereka?
Kemudian…
Pernahkan kau katakan kepada anak-anakmu: (-“Ketahuilah! Sesungguhnya, seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan kebaikan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Juga, seandainya seluruhnya mereka bersatu ingin mendatangkan keburukan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan atasmu. Kalam telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan takdir telah terlanjur kering.”-) ?
Sungguh sulit dibayangkan, anak yang belum lagi mencapai usia 10 tahun mendengarkan ungkapan-ungkapan seperti di atas. Kalau bukan karena cerdas atau terbiasanya mendengar kalimat-kalimat bermutu, tentu tak mungkin seorang anak seumurnya memahami perkara ini. Maka, obrolan macam apa yang biasa didengar anak kita, jika kalimat-kalimat semacam di atas terasa sulit mereka pahami?
Tentu saja Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyadari sekali bahwa Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- pasti memahaminya. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam- ingin menanamkan keyakinan kepada Taqdir -baik dan buruk- melalui kiasannya yang demikian indah, sekaligus mengajari Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- bersikap optimis. Ya, semuda itu seorang anak sudah harus tahu perkara semacam ini. Bagaimana dengan anak-anak kita?
Kemudian…
Pernahkah kau katakan kepada anak-anakmu: (-“Ingatlah kepada ALLAH tatkala kau sedang dalam kelapangan, maka ALLAH pun akan ingat kepadamu ketika engkau dalam kesempitan.”-) ? Mengertikah mereka akan maksudnya? Mengertikah mereka kalau yang dimaksudkan - Ingatlah kepada ALLAH tatkala kau sedang dalam kelapangan- adalah bersyukur, bersyukur manakala kita sedang dalam keadaan sehat, senang, atau hidup berkecukupan apalagi berlebihan? Dan mengertikah mereka kalau yang dimaksud - ALLAH pun akan ingat kepadamu ketika engkau dalam kesempitan- adalah datangnya pertolongan ALLAH kepada kita, di antaranya dikaruniakan kesabaran dan kekuatan untuk bersabar?
Ya, sejak kecil seorang anak sudah harus diajar untuk mengerti arti bersyukur. Dibiasakan untuk senantiasa -bahkan lebih- mengingat ALLAH ketika sedang bersenang hati, bukan justru menjadi lalai. Dan membiasakan anak -atau siapa saja- ingat kepada ALLAH sering lebih efektif justru ketika mereka sedang dalam keadaan gembira. Lakukan ini! Yakni, ketika kita sedang bersenang-senang dengan mereka -ketika sedang bertamasya dan berlari-lari di taman, atau sedang bercengkrama dan bercanda di rumah, misalnya- berhentilah sejenak dan pegang tangannya, kemudian katakan kepadanya, ”Kau bahagia.., senang ? Bersyukurlah kepada ALLAH !” Juga yang seperti ini bisa dilakukan seorang suami kepada isterinya, atau sebaliknya. Di saat-saat mereka bersenang-senang, bertanyalah yang satu kepada yang lainnya, “Kau bahagia…, kau senang ? Bersyukurlah kepada ALLAH !“
Juga hendaknya kita menyadari bahwa Syukur dan Sabar itu ibarat dua muka dari satu mata uang, tak mungkin yang satu ada tanpa yang lainnya. Seorang yang tak pandai bersyukur -ketika senang- sudah pasti tak mampu bersabar -ketika susah-. Bagaimana dia akan mampu bersabar ketika menghadapi penderitaan, sedangkan ni’mat saja tak mampu ia rasakan dan syukuri. Juga dapat kita ambil manfa’at dari wasiat di atas adalah, bahwa menumbuhkan sikap sabar dan kuat -pada anak- di dalam menahan kesusahan harus dimulai dengan mengajarkan mereka untuk pandai-pandai bersyukur tatkala senang.
Kemudian…
Pernahkan kau katakan kepada anak-anakmu: (-“Ketahuilah, bahwa apa yang tak pantas bagi mu tak akan ALLAH timpakan kepadamu. Dan apa yang ALLAH timpakan kepadamu itu memang layak bagimu.”-) ? Mengertikah mereka akan maksudnya? Mengertikah mereka, bahwa ALLAH SWT tak pernah salah di dalam menetapkan taqdir ?
Ya, sedini mungkin seorang anak harus tahu, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak pernah berbuat dzolim kepada hamba-Nya. Semua yang ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa tetapkan atas hamba-Nya berdasarkan Pengetahuan-Nya, Kebijaksanaan-Nya, Keadilan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya. ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa tak akan menjebloskan hamba-Nya ke dalam neraka, seandainya hamba tersebut tak pantas masuk ke dalamnya. Begitu pula Ia tak akan memasukkan hamba-Nya ke sorga, seandainya hamba tersebut tak pantas masuk ke dalamnya. Dan seseorang yang semula di neraka -disebabkan dosa-dosanya- mungkin saja akhirnya diangkat ke sorga dengan beberapa sebab, seperti mendapatkan syafa’at dari yang diijinkan ALLAH untuk memberi syafa’at, selesai sudah adzab baginya, atau memperoleh ampunan dari ALLAH. Tetapi, tak mungkin seseorang yang telah ALLAHSubhaanahu wa ta’alaa masukkan ke dalam sorga kemudian dikeluarkan kembali dan dijebloskan ke dalam neraka, sebagaimana sering kita dengar dari riwayat yang dianggap sebagai ucapan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sungguh mustahil ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memasukkan ke sorga seseorang yang tidak layak menikmatinya, kemudian setelah itu Ia keluarkan dan jebloskan ke dalam neraka. Perhitungan ALLAH sangat teliti dan Ia tidak pernah salah dalam menetapkan taqdir. Bukankah seseorang yang telah dimasukkan ke dalam sorga tak akan sekali-kali dikeluarkan kembali, sebagaimana firman ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa (-Yang artinya: “Dan sekali-kali mereka -yang telah berada di sorga- tak akan lagi pernah dikeluarkan darinya.” / Al Hijr:48-) Ya, sedini mungkin seorang anak harus tahu, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak pernah salah di dalam menetapkan taqdir.
Kemudian…
Pernahkah kau katakan kepada anak-anakmu: (-“Ketahuilah, bahwa pertolongan ALLAH bersama kesabaran, perjuangan itu bersama pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” -) ? Mengertikah mereka akan ucapan atau ungkapan semacam ini ? Ya, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan senantiasa menolong orang yang sabar. Begitu pula kita katakan , “Mana ada perjuangan tanpa pengorbanan.” Dan anak-anak kita diajak mengerti, bahwa tidak ada yang gratis di dalam hidup ini. Semua harus ditempuh dengan perjuangan dan memerlukan pengorbanan. Namun demikian, kita ajarkan pula kepada mereka arti sebuah usaha dan sikap optimis, bahwa di balik kesulitan-kesulitan pasti ada kemudahan-kemudahan dan jalan keluar.
Ya, sudahkah itu semua kita sampaikan kepada anak-anak kita, walau mungkin dengan cara dan ungkapan yang berbeda ? Sudahkah anak-anak kita mengetahui -sejak usia mereka belum mencapai 10 tahun, bahwa:
  • Ada hak-hak ALLAH yang harus dijaga, berupa perintah dan larangan-Nya.
  • Berdo’a kepada ALLAH adalah wujud paling nyata dari perbuatan mentauhidkan ALLAH.
  • Tak ada yang terjadi tanpa kehendak ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.
  • ALLAH tidak pernah salah di dalam menetapkan taqdir.
  • ALLAH menyukai orang yang sabar, bersungguh-sungguh, dan optimis.
Ya, sudahkah mereka pernah mendengar hadits ini dan memahaminya ?
عَنْ عبدِ الله بنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما قالَ : كُنتُ خَلفَ النَّبيِّ r فقال :
يا غُلامُ إنِّي أعلِّمُكُ كَلماتٍ:
احفَظِ الله يَحْفَظْكَ، احفَظِ الله تَجِدْهُ تجاهَك، إذا سَأَلْت فاسألِ الله، وإذا استَعنْتَ فاستَعِنْ باللهِ،
واعلم أنَّ الأُمَّةَ لو اجتمعت على أنْ ينفعوك بشيءٍ، لم ينفعوك إلاَّ بشيءٍ قد كَتَبَهُ الله لكَ،
وإنِ اجتمعوا على أنْ يَضرُّوكَ بشيءٍ، لم يضرُّوك إلاَّ بشيءٍ قد كتبهُ الله عليكَ،
رُفِعَتِ الأقلامُ وجَفَّتِ الصُّحُفُ .
رواه الترمذيُّ ، وقال : حديثٌ حسنَ صَحيحٌ .وفي رواية غير التِّرمذي :
احفظ الله تجده أمامَك، تَعرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاء يَعْرِفْك في الشِّدَّةِ،
واعلَمْ أنَّ ما أخطَأَكَ لم يَكُن لِيُصِيبَكَ، وما أصابَكَ لم يَكُن ليُخطِئَكَ،
واعلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبر، وأنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وأنَّ معَ العُسْرِ يُسراً.
Dari Abdullah bin Abbas -radhiallahu anhu-. Ia berkata: Dahulu aku berada dibelakang Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di atas kendaraannya kemudian ia berkata: “Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah ALLAH niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah ALLAH niscaya kau akan mendapati NYA di hadapanmu. Jika engkau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada ALLAH. Dan ketahuilah! Sesungguhnya, seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan kebaikan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Juga, seandainya seluruhnya mereka bersatu ingin mendatangkan keburukan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan atasmu. Kalam telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan taqdir telah terlanjur kering.” (H.R. Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan shohih.)Dan di dalam riwayat selain Tirmdzi:
“Jagalah ALLAH niscaya engkau akan mendapatinya berada didepan mu. Ingatlah ALLAH ketika engkau dalam kelapangan, maka Ia akan mengingatmu ketika engkau dalam kesempitan. Dan ketahuilah, bahwa apa yang tak pantas bagi mu maka tak akam ALLAH timpakan kepadamu. Dan apa yang ALLAH timpakan kepadamu itu memang layak bagimu.Dan ketahuilah, bahwa pertolongan ALLAH bersama kesabaran, perjuangan itu bersama pengobanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Senin, 25 Agustus 2014

Bunda, Kemana Aku Kan Kaubawa?

Anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi-Nya, serta memiliki akhlak mulia.

love air
Anak adalah karunia dan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terasa bahagia hati tatkala melihat mereka, terasa sejuk mata saat memandang mereka. Begitu pun jiwa terasa bahagia dengan keceriaan mereka.
Bahkan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini termasuk dalam doa Nabi Zakaria ‘alaihis salam. Beliau mengatakan,
“Rabb-ku, janganlah Kau membiarkanku seorang diri, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mewarisi.” (al-Anbiya: 89)


Anak adalah perhiasan hidup di dunia. Orang yang tidak dikaruniai anak akan mengetahui betapa besar nikmat ini.
Adapun dirimu, sungguh engkau adalah seorang ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepadamu pada hari kiamat nanti, apakah engkau menjaganya ataukah menyia-nyiakannya?
Ketahuilah olehmu, kesempurnaan perhiasan seorang anak tidaklah akan diraih kecuali dengan agama dan kebaikan akhlaknya. Bila tidak demikian, anak hanya akan menjadi musibah bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.
Banyak masalah yang berkaitan dengan pendidikan mereka secara umum, akan tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar, namun sekadar menyinggung beberapa perkara yang paling penting:
  • Bersemangatlah untuk menyelamatkan akidah mereka dari perkara-perkara yang bisa mengotorinya. Hindarkanlah mereka dari memakai jimat-jimat, meramal nasib dengan melihat garis tangan, atau bentuk-bentuk ramalan yang lainnya. Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang agung dalam hati mereka.
  • Bersemangatlah dalam menanam-kan keimanan, kebaikan, dan perasaan selalu diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam hati mereka. Renungkanlah wasiat Luqman kepada anak-anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah tetap mendatangkannya (membalasnya).” (Luqman: 16)
    Mereka harus senantiasa diingatkan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya.
    Diriwayatkan dari Tsabit bin Qais dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan, “Rasulullah mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Beliau memberi salam kepada kami, kemudian mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat datang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’
    Aku menjawab, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan.’
    Ibuku bertanya lagi, ‘Apa keperluan beliau?’
    Aku katakan, ‘Ini rahasia.’
    Ibuku pun mengatakan, ‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kau ceritakan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang pun.’
    Anas berkata, ‘Demi Allah, seandainya aku memberitahukan rahasia itu kepada seseorang, sungguh aku juga akan memberitahukan kepadamu, wahai Tsabit!’.” (Sahih, HR. Muslim)
    Perhatikanlah. Sang ibu tidaklah menghukum anaknya ketika merahasiakan urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.
    Berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh sebagian ibu yang lain. Bahkan, ada ibu yang terlalu banyak bertanya kepada anak mereka tentang hal-hal yang tidak layak diketahui banyak orang dari suatu rumah yang dikunjungi si anak. Demikian pula tentang segala yang terjadi di antara penghuni rumah tersebut. Dengan semua itu, tanpa disadari sang ibu telah menanamkan dalam diri anaknya sifat fudhul (terlalu ingin tahu urusan orang lain) dan suka menyebarkan rahasia.
  • Ingatkanlah mereka, bahwa Allah Mahaperkasa, menghukum hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya, Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap orang-orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya.
    Ingatkanlah mereka tentang maut dan beratnya kematian, tentang alam kubur dan kegelapannya, serta tentang kiamat dan kengerian pada saat itu.
    Perintahlah mereka untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, terlebih lagi dalam perkara shalat. Dampingilah mereka dalam melaksanakannya dan bangunkan mereka dari tidurnya untuk shalat.
    Tanamkanlah dalam diri-diri mereka agungnya kedudukan shalat. Waspadalah dari perasaan kasih sayang terhadap mereka yang justru membuatmu tidak membangunkan mereka, yang dapat menyebabkan dirimu dan dirinya masuk ke dalam neraka. Wal ‘iyadzu billah.
    Biasakanlah mereka berpuasa sejak kanak-kanak agar mudah melaksanakannya ketika usia mereka telah baligh dan sadarkanlah mereka terhadap pengawasan Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya puasa adalah pendidik paling besar bagi mereka agar mereka menyadari bahwa Allah Maha Mengawasi.
  • Awasilah anak-anakmu dan jangan biarkan mereka bermudah-mudah melakukan perkara-perkara yang mungkar, sementara engkau mengetahuinya.
  • Janganlah berdiam diri sementara engkau mengetahui bahwa putrimu mendengarkan nyanyian (musik), mengenakan cat kuku (kuteks) lalu berwudhu tanpa menghilangkannya, mengerik alisnya, melepaskan hijab yang syar’i, keluar dengan memakai wewangian, bepergian sendiri baik ke pasar maupun ke tempat-tempat umum lainnya, mengendarai mobil berdua saja dengan sopir, atau ia suka membaca majalah-majalah yang dapat merusaknya!
    Janganlah engkau meletakkan telepon di kamar pribadinya dan awasilah ia dari jauh. Janganlah bersikap terlalu percaya yang berlebihan atau merasa waswas yang keterlaluan yang dapat memengaruhi diri putrimu hingga ia kehilangan rasa percaya dirinya.
    Wahai ibu yang mulia, hindarilah memberikan protes tanpa mampu berbuat sesuatu kepadanya atau engkau semata-mata membenci kemungkaran yang dilakukannya tanpa tindakan apapun.
    Akan tetapi, jadilah orang yang kuat memegang al-haq yang tidak akan ridha pada sesuatu yang batil, namun lemah lembut dan penyayang dalam perkara-perkara selain itu. Didiklah dengan baik putrimu karena kelak di hari akhir dia bisa menjadi tabir/penghalang api neraka darimu.
    Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Berbuat baik terhadap anak-anak perempuan diwujudkan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islami, mengajarkan ilmu kepada mereka, membesarkan mereka di atas al-haq dan semangat untuk menjaga kehormatan diri, serta menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala berupa tabarruj1 dan selainnya.
    Demikianlah metode mendidik anak-anak perempuan ataupun anak laki-laki, juga dengan hal-hal selain itu yang termasuk sisi-sisi kebaikan. Jadi, mereka semua terdidik untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, serta menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menegakkan hak-hak-Nya.
    Dengan demikian, kita ketahui bahwasanya maksud berbuat baik di sini bukanlah semata-mata memberi mereka makan, minum, dan pakaian saja. Bahkan maksudnya lebih besar daripada itu semua, yaitu berbuat kebaikan kepada mereka, baik dalam masalah agama maupun dunia.”
    Beliau juga berkata, ”Hadits ini ditujukan kepada ayah atau ibu secara umum.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/377)
  • Peringatkan putra-putrimu dari teman-teman yang jelek dan jelaskan bahayanya bergaul dengan mereka.
  • Jagalah mereka dari bermain di jalanan serta bahayanya. Buatlah mereka sibuk dengan perkara-perkara yang memberi manfaat pada diri mereka, seperti menghafal Al-Qur’an di masjid.
    Janganlah engkau memasukkan alat-alat yang diharamkan ke dalam rumah, terlebih lagi video (sekarang VCD, DVD, dsb), walaupun engkau memberikannya dengan maksud sekadar untuk menghibur mereka.
    Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Barang siapa meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’alaakan memberi ganti yang lebih baik darinya di dunia dan akhirat.
    Demikianlah. Barang siapa meninggalkan maksiat karena Allah subhanahu wa ta’ala, padahal hawa nafsunya ingin melakukannya, Allah subhanahu wa ta’alaakan menggantikannya dengan keimanan dalam hatinya, berikut keluasan, kelapangan, dan berkah dalam rezekinya serta kesehatan badannya, disamping pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala yang ia tidak akan mampu menggambarkannya.” (Taisir al-Karimir Rahman)
    Waspadalah, wahai saudariku muslimah, dari mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, walaupun dirimu dalam keadaan marah. Bisa jadi doamu bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, hingga doa jelekmu itu terkabul. Sebaliknya, perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi mereka.
    Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk memperbaiki anak-anak kita serta menjadikan mereka penghibur hati bagi kita di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita dalam mengemban amanah ini.
    (Diterjemahkan dengan ringkas oleh Ummu ‘Affan bintu Abi Salim dari tulisan aslinya yang bertajuk Tarbiyatul Abna’ ‘Ala Manhaj as-Salaf, sebuah artikel yang diambil dari Ruknul Mar’ah as-Salafiyah, www.sahab.net)

1 Tabarruj adalah bersolek dan berhias di hadapan selain mahram.

Senin, 09 Juni 2014

Wasiat Berharga Untuk Setiap Muslim



Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Jadilah engkau (hidup) di dunia ini seakan-akan seperti orang asing atau orang yang safar (orang yang melakukan perjalanan).”
Ibnu Umar berkata, “Apabila engkau berada di waktu sore maka jangan tunggu waktu pagi dan apabila engkau berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore, manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. al-Bukhari no. 6416)

Para pembaca yang berbahagia.
Sungguh, ini merupakan untaian kata yang sangat indah dan ringkas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam, yang di dalamnya terkandung banyak pelajaran berharga dan akan menjadi pedoman bagi kita semua di dalam menjalani kehidupan dunia.
Orang asing adalah seorang yang tinggal di sebuah negeri yang bukan negeri asalnya karena adanya suatu urusan maka diapun akan bersiap-siap untuk berangkat dari negeri tersebut kapan saja urusannya selesai dan kembali ke negeri asalnya, adapun orang yang safar adalah orang yang sedang melakukan suatu perjalanan yang melewati berbagai negeri dan tidak bermukim pada negeri yang dia lewati sampai dia menyelesaikan perjalanannya. Maka negeri asing dan negeri yang dilewati adalah sebagai permisalan dunia, sementara keberangkatan atau perjalanannya adalah menuju akhirat. Yang demikian ini bisa dilakukan dengan cara mengingat kematian, mengurangi angan-angan dan mempersiapkan diri menuju akhirat dengan melakukan amalan saleh. (Lihat Fathul Qowi al-Matin hal. 131-132)
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam memberikan bimbingan dan arahan untuk menjadikan dan menempatkan jiwa pada keadaan seperti orang asing atau orang yang safar. (Lihat Subulus Salam juz 2, hal. 645)
Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan, “Makna hadits ini adalah janganlah engkau condong kepada dunia, jangan menjadikannya sebagai tempat tinggal yang permanen dan jangan sampai jiwamu membisikkan kepadamu untuk tinggal selama-lamanya di dunia serta jangan sampai engkau bergantung kepadanya sebagaimana orang asing yang tidak bergantung kepada selain negeri asalnya.” (Lihat Fathul Bari juz 11, hal. 234)
Hendaklah seorang mukmin menjadikan kehidupannya di dunia berada pada salah satu dari 2 keadaan: ibarat keadaan orang asing yang tinggal di negeri asing yang kesibukannya hanyalah mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri asalnya (akhirat), atau ibarat keadaan orang yang safar yang tidak memiliki tempat tinggal sama sekali bahkan siang dan malamnya dia gunakan untuk berjalan menuju negeri tujuannya. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam memberikan wasiat kepada sahabat Ibnu Umar RadhiyAllahu ‘Anhuma agar menjadi salah satu dari 2 keadaan dalam menjalani kehidupan dunia. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 378)
Kehidupan seorang mukmin di dunia hendaklah seperti orang asing yang tidak berkhayal untuk bermukim di negeri yang asing. Hatinya tidaklah bergantung dengan negeri yang asing tersebut akan tetapi hanya bergantung pada negeri yang dia akan kembali padanya. Tinggalnya dia di dunia semata-mata hanyalah dalam rangka mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri asalnya yaitu akhirat. Atau seperti orang yang safar yang terus berjalan menempuh perjalanan hingga mencapai batas akhir perjalanan.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan, “Seorang mukmin dalam kehidupan dunia adalah orang yang sedih dan susah, semangatnya adalah sebatas mempersiapkan perbekalan.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 378-379)
Dan barangsiapa yang keadaannya demikian ketika di dunia, maka tidaklah dia bersemangat kecuali semata-mata dalam rangka mempersiapkan bekal yang bermanfaat ketika dia kembali ke negeri asalnya. Maka dia pun tidak akan bersaing dengan penduduk negeri yang dia tinggal terasing di negeri tersebut dalam rangka memperebutkan kedudukan. Demikian pula tidaklah dia bersedih dikarenakan kerendahan dirinya dihadapan mereka.
Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah ibarat orang asing, tidaklah dia bersedih dikarenakan rendah kedudukannya di kalangan mereka dan dia pun tidak akan ikut bersaing di dalam memperebutkan kedudukan. Dia memiliki kepentingan sendiri sementara orang lain pun memiliki kepentingan sendiri.” (LihatJami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 379)
‘Atha as-Sulaimi Rahimahullah berkata dalam doanya: “Ya Allah rahmatilah keasinganku dalam kehidupan dunia, dan rahmatilah kesendirianku dalam kehidupan alam kubur serta rahmatilah tempat berpijakku kelak tatkala berada di hadapan-Mu.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 379)
Setelah mendengar wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam, Ibnu Umar RadhiyAllahu ‘Anhuma pun memberikan 2 wasiat:
1. Apabila engkau berada di waktu sore maka jangan menunggu waktu pagi dan apabila engkau berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore.
2. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.
Pendekkanlah Angan-Anganmu
Wasiat pertama yaitu “apabila engkau berada di waktu sore maka jangan menunggu waktu pagi” maksudnya adalah segeralah engkau beramal sebelum datang waktu pagi dan jangan katakan aku akan beramal besok saja karena bisa jadi engkau akan meninggal dunia sebelum datang waktu pagi. Demikian pula “apabila engkau berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore” maksudnya adalah beramallah dan persiapkan bekal berupa amal saleh karena bisa jadi engkau akan meninggal dunia sebelum datang waktu sore. (Lihat Syarh al-’Arba’in lil ‘Utsaiminv hal. 391)
Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah mengatakan, “Hadits ini berisi anjuran untuk memendekkan angan-angan dalam kehidupan dunia. Dan tidak pantas bagi seorang mukmin untuk menjadikan dunia sebagai tempat tinggal permanen yang dia merasa nyaman di dalamnya. Akan tetapi hendaknya seorang mukmin di dalam menjalani kehidupan dunia ini ibarat seorang musafir yang mempersiapkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 377)
Maka janganlah kalian –wahai saudaraku- menunda-nunda untuk beramal, apabila berada di waktu pagi maka jangan menunggu datangnya waktu sore atau apabila berada di waktu sore maka jangan menunggu datangnya waktu pagi. Betapa banyak orang yang masih hidup di waktu pagi namun tidak mendapati lagi waktu sore, sebaliknya betapa banyak orang yang masih hidup di waktu sore namun tidak mendapati lagi waktu pagi. Betapa banyak orang yang memakai pakaian namun tidaklah sempat dia melepaskannya kecuali orang yang memandikan jenazahnya. Betapa banyak orang yang pergi dari keluarganya dalam keadaan keluarganya telah mempersiapkan makan siang dan makan malamnya namun dia belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang tidur namun dia tidak sempat bangun dari peraduannya. Sehingga tidak boleh bagi seseorang untuk panjang angan-angan. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin lil ‘Utsaiminv juz 3, hal 458)
Manfaatkanlah Waktu Luangmu
Wasiat kedua yaitu “manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu” maksudnya adalah sebagai seorang muslim hendaklah bersegera untuk beramal saleh kapanpun dia mampu untuk melakukannya yaitu tatkala dia dalam kondisi sehat sebelum datangnya penghalang seperti sakit dan usia senja dan hendaklah mengisi umur kehidupannya dengan amal-amal saleh sebelum datangnya kematian secara tiba-tiba maka ia pun akan berpindah dari negeri amalan (dunia) menuju negeri pembalasan (akhirat). (Lihat Fathul Qowi al-Matin hal. 132-133)
Maka hendaklah diri kita untuk bersegera melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya beberapa perkara yang akan menghalangi untuk beramal saleh seperti sakit, kematian atau munculnya tanda-tanda kiamat besar yang ketika itu tidaklah akan diterima amalan seorang hamba. Dan kapan saja datang penghalang yang menghalangi diri seseorang dengan amalannya, maka tidak ada lagi yang tersisa baginya kecuali kerugian dan penyesalan dalam hatinya, dan diapun akan berangan-angan untuk kembali kepada keadaan yang dia bisa melakukan amalan. Namun sayang, angan-angannya tidak bermanfaat sedikitpun.
Sebagaimana keadaan orang-orang kafir tatkala kematian datang menjemput:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Wahai Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mukminun: 99-100)
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam memberikan wasiat,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada 2 nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412)
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam pernah memberikan wasiat kepada seorang pemuda, “Gunakanlah 5 kesempatan sebelum datangnya 5 penghalang: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. al-Hakim no. 7846, Shahihul Jami’ no. 1077)
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam juga pernah berwasiat,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، أَوِ الدُّخَانَ، أَوِ الدَّجَّالَ، أَوِ الدَّابَّةَ، أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya 6 perkara: terbitnya matahari dari arah barat, munculnya asap, munculnya hewan yang bisa berbicara, kematian dan hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2947)
Sufyan ats-Tsauri Rahimahullah berkata, “Apabila matahari telah terbit dari barat maka para malaikat akan menutup buku-buku catatannya dan meletakkan pena-penanya.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam juz 2, hal. 390)
Sa’id bin Jubair Rahimahullah berkata, “Setiap hari dari kehidupan seorang mukmin maka itu adalah keuntungan baginya.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, juz 2, hal. 391)
Asy-Syaikh al-’Utsaimin Rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi seorang yang berakal, selama dia masih hidup dan diberi kesehatan hendaklah bersemangat untuk beramal sebelum kematian datang menjemput maka akan terputuslah amalannya.” (Lihat Syarh al-’Arbai’in lil ‘Utsaimin hal. 393)
Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Muhammad Rifqi
Sumber
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya ( An Nisa : 48)"

Nasehat Imam Empat Mazhab," Jangan fanatik kepada kami "!

☛ Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

☛ Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

☛ Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

☛ Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)

Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).

Selengkapnya klik DI SINI

Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah kita taqlid buta kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?


Ilmu & Amal

Tuntutan ilmu adalah amal & tuntutan amal adalah ilmu . Amal hati/batin dinilai dengan keikhlasan & amal lahir dinilai dengan ketaatan mengikuti sunnah Rasul

Tauhid

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran- lembaran telah kering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata,” Hadist ini hasan shahih). ☛ ☛ ☛ “Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”(Dalam riwayat selain at-Tirmidzi)

Tes Gannguan Jin Dalam Tubuh

Sesungguhnya syirik itu melenyapkan amalan dan menyebabkan kekal di dalam neraka

Gerakan Sholat Yang Benar

www.loogix.com. Animated gif