Barangsiapa yang mendapati suatu perselisihan, maka ia harus berpegang dengan Sunnah Nabi shallalla

  • Saya tidak mengatakan diri saya sebagai seorang ahli 'ilmu karena memang saya bukanlah ahlu 'ilmu, melainkan hanya penuntut 'ilmu . maka Janganlah engkau MENIMBA dan BERTANYA tentang 'ilmu kepadaku. Janganlah pula jadikan postingan-postingan saya sebagai rujukan 'ilmu bagi kalian. Tapi timbalah dan tanyalah 'ilmu kepada ahlinya. Apa-apa yang kupostingkan di website ini yang berisikan kebenaran, maka terimalah. Apa-apa yang bertentangan dengan kebenaran, maka tolaklah, dan luruskanlah dengan 'ilmu dan hujjah.

Bukti Cinta

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

(Tafsiir Ibni Katsiir I/384)

Tampilkan postingan dengan label Ma'rifat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ma'rifat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Ma’rifatullâh, Gerbang Utama Menuju Kesempurnaan Iman Kepada Allâh Azza wa Jalla (2)

MA'RIFATULLAH, GERBANG UTAMA MENUJU KESEMPURNAAN IMAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA


MA’RIFATULLAH YANG BENAR JALAN UTAMA UNTUK MERAIH KESEMPURNAAN
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )” [Fâthir/35:28]

Dalam hadits yang shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allâh dan orang yang paling mengenal-Nya diantara kamu sekalian."[25] 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Arti (ayat di atas), 'Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allâh-lah yang memiliki rasa takut yang benar kepada Allâh. Karena semakin sempurna pemahaman dan penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allâh, Dzat yang maha mulia, maha kuasa dan maha mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula.”[26] 

Inilah jalan utama bahkan jalan pintas untuk menyempurnakan keimanan dan penghambaan diri seorang mukmin kepada Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkapkan hal ini dalam ucapan beliau, “Perjalanan menuju Allâh melalui jalur (memahami) nama-nama dan sifat-sifat-Nya keadaannya (sungguh) sangat menakjubkan dan (pintu hidayah) yang dibukakan (melalui jalur ini) sangat agung. Seorang hamba (yang menempuh jalur ini) sungguh telah dibawakan kepadanya kebahagiaan sejati (kesempurnaan iman) saat dia tidur terlentang di atas tempat tidurnya, tanpa merasa lelah dan bersusah payah …”[27] 

Ini bukan suatu yang mengherankan, terutama kalau kita memahami bahwa semua kedudukan mulia dan agung dalam Islam tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan menyempurnakan pemahaman dan penghayatan kita terhadap kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Karena masing-masing dari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla memiliki pengaruh yang kuat dalam menumbuhsuburkan keimanan dan penghambaan diri kepada-Nya secara totalitas. Atau dengan kata lain, penghambaan diri yang sempurna kepada Allâh Azza wa Jalla dalam semua bentuknya kembali kepada pemahaman dan penghayatan makna yang terkandung dalam nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla[28] .

Sebagai contoh, sifat Murâqabatullah (selalu merasa dalam pengawasan Allâh Azza wa Jalla ). Ini adalah sifat mulia dan kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan termasuk tahapan utama dalam menempuh perjalanan menuju ridha Allâh Azza wa Jalla.

Hakikat murâqabatullâh adalah seorang hamba selalu merasakan dan meyakini pengawasan Allâh Azza wa Jalla terhadap (semua keadaannya) lahir dan batin. Dia merasakan pengawasan-Nya ketika berhadapan dengan perintah-Nya, untuk kemudian dia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dan ketika berhadapan dengan larangan-Nya, untuk kemudian dia berusaha keras menjauhinya dan menghindarinya.[29] 

Inilah yang diungkapkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tingkatan tertinggi dalam Islam, yaitu kedudukan al-Ihsan. Dalam hadits Jibril Alaihissallam yang terkenal, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

(al-Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”[30] 

Kedudukan tinggi ini hanya akan dicapai oleh seorang hamba dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla , kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , khususnya yang berhubungan dengan pengawasan, persaksian, penglihatan, pendengaran dan pengetahuan-Nya yang maha sempurna. Misalnya nama Allâh Azza wa Jalla ar-Raqîb (Yang Maha Mengawasi), asy-Syahîd (Yang Maha Menyaksikan), al-Bashîr (Yang Maha Melihat) dan al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) [31] .

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah memaparkan pembahasan penting ini dalam ucapan beliau, “Murâqabatullâh adalah termasuk amalan hati yang paling tinggi (keutamaannya dalam Islam), yaitu menghambakan diri kepada Allâh dengan (memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam) nama-Nya ar-Raqîb (Yang Maha Mengawasi) dan asy-Syahîd (Yang Maha Menyaksikan). Maka ketika seorang hamba mengetahui atau meyakini bahwa semua gerakan (aktifitas)nya, tidak ada (satupun) yang luput dari pengatahuan-Nya, dan dia (senantiasa) menghadirkan keyakinan ini dalam semua keadaannya, ini (semua) akan menjadikannya (selalu berusaha) menjaga batin (hati)nya dari (semua) pikiran (buruk) dan angan-angan yang dibenci Allâh, serta menjaga lahir (anggota badan)nya dari (semua) ucapan dan perbuatan yang dimurkai Allâh, serta dia akan beribadah atau mendekatkan diri (kepada Allâh) dengan kedudukan al-ihsan, maka dia akan beribadah kepada Allâh seakan-akan dia melihat-Nya, kalau dia tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allâh melihatnya.”[32] 

Demikian pula sifat Tawakkal (selalu bersandar dan berserah diri) kepada Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah sifat yang agung dan memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman :

رَّبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

(Dia-lah) Rabb masyrik (wilayah timur) dan maghrib (wilayah barat), tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung [al-Muzzammil/73:9][33] . 

Merealisasikan tawakkal dengan benar adalah sebab utama yang mengundang pertolongan Allâh Azza wa Jalla bagi hamba-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (segala keperluan)nya [ath-Thalâq/65: 2-3]

Kedudukan yang mulia ini juga hanya akan dicapai dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , misalnya: al-Hasîb (Yang Maha Memberi Kecukupan), al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat), al-Matîn (Yang Maha Kokoh), dan az-‘Azîz (Yang Maha Perkasa)[34] , juga kekhususan-Nya dalam sifat-sifat rububiyah, seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezki, memberi manfaat dan mencegah keburukan.[35] 

Kedudukan Mahabbatullah (mencintai Allâh Azza wa Jalla ) dan menjadikan-Nya lebih dicintai dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Ini merupakan ciri utama orang yang merasakan manisnya iman dan kesempurnaannya, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman): menjadikan Allâh dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allâh, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allâh sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api”[36] .

Kedudukan tertinggi dalam Islam ini hanya akan diraih dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal Allâh dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya maka dia pasti akan mencintai-Nya”[37] 

Juga kedudukan Ridha billahi rabban (ridha kepada Allâh sebagai Rabb), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya.[38] Ini adalah kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Akan merasakan kelezatan atau kemanisan iman (yaitu) orang yang ridha dengan Allâh Azza wa Jalla sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[39] 

Kedudukan agung ini hanya akan dicapai dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap sifat-sifat rububiyah dan bahwa Dia-lah satu-satunya yang maha mampu melakukan semua itu, seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezki, mengatur alam semesta, memberi manfaat dan mencegah keburukan.[40] 

Demikianlah, maka semua sifat dan kedudukan tinggi dalam Islam hanya akan diraih dengan sempurna melalui pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap keindahan nama-nama Allâh Azza wa Jalla dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Sehingga hamba yang paling sempurna dalam keimanan dan penghambaan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dialah yang paling mengenal kandungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allâh Azza wa Jalla ) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia.”[41] 

CARA UNTUK MERAIH MA’RIFATULLAH YANG BENAR
Cara yang paling pertama dan utama adalah berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla , karena di tangan-Nyalah segala kebaikan dan hanya Dialah yang mampu menganugerahkan semua sifat-sifat yang agung kepada hamba-Nya.

Oleh karena itu, imam Mutharrif bin 'Abdillah bin asy-Syikhkhîr rahimahullah berkata, “Aku mengingat-ingat (merenung-red) apakah yang bisa menghimpun segala kebaikan ? Karena kebaikan itu banyak ; puasa, shalat (dan lain-lain). Semua kebaikan itu ada di tangan Allâh Azza wa Jalla, maka jika kamu tidak mampu (memiliki) apa yang ada di tangan Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan memohon kepada-Nya agar Dia memberikan semua itu kepadamu, berarti yang bisa menghimpun (semua) kebaikan adalah berdoa (kepada Allâh Azza wa Jalla)”[42] 

Kemudian berusaha memahami dan menghayati ayat-ayat al-Qur'an yang mayoritas isinya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , serta penjabaran dari semua itu.

Secara ringkas, syaikh 'Abdur Rahman as-Sa'di rahimahullah memaparkan cara untuk meraih ilmu yang agung ini melalui penghayatan terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur'an, yaitu dengan menghadirkan makna yang terkandung dalam nama-nama Allâh yang maha indah dan berusaha meresapinya ke dalam hati, agar hati dapat merasakan pengaruh baik dari kandungan nama-nama tersebut dan dipenuhi dengan ilmu yang paling agung ini. Sebagai contoh :

1. Nama-nama Allâh Azza wa Jalla yang mengandung sifat-sifat maha agung, maha besar, maha mulia dan maha tinggi. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan rasa pengagungan dan pemuliaan terhadap Allâh. 

2. Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha indah, maha baik, maha penyayang dan maha dermawan. Kandungan sifat-sifat ini akan memenuhi hati manusia dengan kecintaan, kerinduan, selalu memuji dan bersyukur kepada-Nya. 

3. Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha mulia, maha memiliki hikmah atau bijaksana, maha mengetahui dan maha kuasa atas segala sesuatu. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan rasa tunduk, tawaddhu' dan selalu mengakui kelemahan diri di hadapan-Nya. 

4. Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha mengetahui segala sesuatu dengan terperinci, maha meliputi, maha mengawasi dan maha menyaksikan. Kandungan sifat-sifat ini akan menghadirkan di hati manusia perasaan selalu dalam pengawasan Allâh Azza wa Jalla dalam semua gerakan maupun diamnya, selalu menjaga bisikan hatinya dari semua pikiran buruk dan keinginan rusak. 

5. Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha kaya dan maha lembut. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan selalu merasa butuh, tergantung dan menghadapkan diri kepada-Nya dalam setiap saat dan dalam semua keadaan.

Ilmu yang agung ini ketika meresap ke dalam hati dengan sebab pemahaman (yang mendalam) terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla kemudian penghambaan diri kepada-Nya dengan kandungan nama-nama dan sifat-sifat tersebut, maka itu menjadi perkara yang paling agung dan mulia bagi seorang hamba di dunia. Bahkan inilah anugerah terbesar yang Allâh Azza wa Jalla limpahkan kepada hamba-Nya dan inilah inti serta ruh dari tauhid. Barangsiapa yang telah dibukakan baginya pintu yang agung ini maka sungguh ia telah dibukakan pintu (menuju) tauhid yang murni dan iman yang sempurna.”[44] 

PENUTUP
Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha meraih kedudukan yang paling agung dalam Islam ini dengan taufik dan hidayah-Nya.

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan doa dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Ya Allâh, aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan.[45] 

(Ya Allâh) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada (semua) amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-mu [46] .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[25]. HSR al-Bukhari (no. 20) dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma. 
[26]. Tafsir Ibnu Katsir (3/729).
[27]. Kitab Tharîqul Hijratain, hlm. 334
[28]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 24 dan 28
[29]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 160
[30]. HSR Muslim (no. 8).
[31]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 26
[32]. Tafsîru Asma-illâhil Husnâ, hlm. 55
[33]. Lihat kitab al-Irsyâd ila Shahîhil I’tiqâd, hlm. 59).
[34]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 157
[35]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 26
[36]. HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).
[37]. Kitab Madârijus Sâlikîn (3/17).
[38]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 81
[39]. HSR Muslim, no. 34
[40]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 81
[41]. Kitab Madârijus Sâlikîn (1/420).
[42]. Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd, no. 1346).
[43]. Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari kesempurnaan ilmu Allah Azza wa Jalla, lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 131 dan 946
[44]. Lihat kitab al-Qaulus Sadîd melalui perantaraan kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 16-17)
[45]. HR an-Nasa-i dalam as-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/264), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 1971) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani dalam Zhilâlul Jannah fî Takhrîjis Sunnah (no. 424).
[46]. HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

Ma’rifatullâh, Gerbang Utama Menuju Kesempurnaan Iman Kepada Allâh Azza wa Jalla (1)

MA'RIFATULLAH, GERBANG UTAMA MENUJU KESEMPURNAAN IMAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA
Oleh 
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA


Barangkali tidak salah kalau dikatakan bahwa istilah ma’rifatullâh, yang secara bahasa berarti mengenal Allâh Azza wa Jalla , termasuk istilah yang cukup populer di kalangan kaum Muslimin. Karena semua yang beriman sepakat meyakini bahwa mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mencintai-Nya merupakan kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam. Bahkan istilah ma’rifatullâh selalu diidentikkan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dengan kesempurnaan iman dan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman : 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )” [Fâthir/35:28].

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allâh Azza wa Jalla, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya…, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.”[1] 

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata, “Semakin banyak pengetahuan seseorang tentang Allâh, maka rasa takutnya kepada Allâh pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauh dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang ditakutinya (yaitu Allâh Azza wa Jalla).”[2] 

Namun ironisnya, istilah ma’rifatullâh yang agung ini sering disalahartikan dan disalahgunakan oleh sebagian kaum Muslimin. Lebih parah dari itu, sebagian kalangan justru membawa pengertian istilah ini kepada pemahaman yang sangat menyimpang dan berseberangan dengan syariat Islam yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang-orang ahli tasawuf yang mengklaim bahwa metode pemahaman merekalah yang paling dekat dan mudah untuk mencapai ma’rifatullâh. Akan tetapi, kalau kita amati dengan seksama, ternyata ma’rifatullâh yang mereka maksud bukanlah cara mengenal Allâh Azza wa Jalla melalui wahyu yang diturunkan-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ma’rifatullâh yang dikenal di kalangan mereka adalah cara mengenal Allâh Azza wa Jalla yang bersumber dari pertimbangan akal dan perasaan, atau ciptaan pimpinan-pimpinan kelompok mereka, bahkan berdasarkan khayalan atau mimpi yang kemudian mereka namakan mukassyafah (tersingkapnya tabir)[3] .
Bahkan sebagian dari para penganut pemahaman sesat ini berani mengklaim bahwa metode yang mereka tempuh dalam mencapai ma’rifatullâh lebih baik dan lebih mudah daripada metode dalam al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini jelas merupakan tipu daya Iblis yang terlaknat untuk menyesatkan manusia dari jalan Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya [Fâthir/35:8].

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Termasuk tipu daya setan adalah apa yang dilontarkannya kepada orang-orang ahli tasawuf yang bodoh, berupa asy-syathahât (ucapan-ucapan tanpa sadar/igauan) dan penyimpangan besar, yang ditampakkannya kepada mereka sebagai bentuk mukâsyafah (tersingkapnya tabir hakikat) dari khayalan-khayalan. Maka setanpun menjerumuskan mereka dalam berbagai macam kerusakan dan kebohongan, serta membukakan bagi mereka pintu pengakuan (dusta) yang sangat besar. Setan membisikan kepada mereka bahwa sesungguhnya di luar ilmu (syariat yang bersumber dari al-Qur'ân dan sunnah) ada sebuah jalan (lain) yang jika mereka menempuhnya maka jalan itu akan membawa mereka kepada tersingkapnya (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas dan membuat mereka tidak butuh lagi untuk terikat dengan (hukum dalam) al Qur'ân dan Sunnah (?!!)…maka ketika (mereka menempuh jalan yang) jauh dari bimbingan ilmu yang dibawa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setanpun menampakkan kepada mereka berbagai macam kesesatan sesuai dengan keadaan mereka, dan membisikkan khayalan-khayalan ke (dalam) jiwa mereka, kemudian menjadikan khayalan tersebut seperti benar-benar nyata sebagai penyingkapan (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas…(?!!).”[4] 

MEMAHAMI MA’RIFATULLAH YANG BENARAhlus sunnah wal jama’ah meyakini dan menetapkan bahwa ma’rifatullâh yang benar adalah mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah, sifat-sifat-Nya yang maha sempurna dan perbuatan-perbuatan-Nya yang maha terpuji, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa at-tahrîf (menyelewengkan maknanya yang benar), at-ta’thîl (menolak/ mengingkarinya), at-takyîf (membagaimanakannya) dan at-tamtsîl (menyerupakannya dengan makhluk).[5] 

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Kita tidak boleh menyifati Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya (dalam al-Qur’ân) dan yang ditetapkan oleh rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits-hadits yang shahih), kita tidak boleh melampaui al-Qur’ân dan hadits.”[6] 

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ma’rifatullâh (yang benar) adalah mengenal zat-Nya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.”[7] 

Demikian pula memperhatikan dan merenungi keadaan alam semesta beserta semua makhluk Allâh Azza wa Jalla di dalamnya yang merupakan tanda-tanda kemahakuasaan-Nya dan bukti kesempurnaan ciptaan-Nya [8] . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ﴿٢٠﴾وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh Azza wa Jalla ) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [adz-Dzâriyât/51:20-21][9] 

Jadi memahami nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya pintu untuk bisa mengenal Allâh (ma'rifatullâh) dengan pengenalan yang benar, yang ini merupakan landasan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah (kecintaan) kepada Allâh Azza wa Jalla , yang ini tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allâh Azza wa Jalla[10] dengan pengenalan yang benar melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka orang yang tidak memiliki ma'rifatullah (mengenal Allâh) yang benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya.[11] 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya maka dia pasti akan mencintai-Nya.”[12] 

Oleh karena itulah, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan keterkaitan antara ibadah kepada-Nya dan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam dua ayat al-Qur'ân. Ayat pertama :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku [adz-Dzâriyât/51:56].

Ayat kedua :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allâh berlaku padanya, agar kamu mengetahui (memahami) bahwasannya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allâh, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu [ath-Thalâq/65:12]. 

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla tidak akan mugkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allâh dengan pemahaman yang benar.[13] 

Di sini juga perlu diingatkan bahwa ma’rifatullâh ada dua macam. 
Pertama: mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan hanya menetapkan keberadaan-Nya dan sifat-sifat Rububiyah-Nya. inilah jenis ma’rifatullâh yang dimiliki oleh semua manusia, yang beriman maupun kafir dan yang taat maupun durhaka kepada-Nya. 

Kedua: mengenal Allâh Azza wa Jalla yang menimbulkan rasa malu, cinta, rindu, ketergantungan hati, takut, selalu kembali, merasa bahagia dan selalu bersandar kepada-Nya[14]. Inilah ma’rifatullâh yang sempurna dan merupakan pembahasan dalam tulisan ini.

ILMU YANG PALING AGUNG DALAM ISLAMMemahami nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan benar untuk mencapai ma’rifatullâh adalah ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsung dengan Allâh Azza wa Jalla , Dzat yang maha sempurna.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan obyek yang dipelajarinya, karena keyakinan jiwa akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya, juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Maka tidak diragukan lagi, bahwa ilmu tentang Allâh, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan (kemahasempurnaan) Allâh Azza wa Jalla dengan semua obyek yang dipelajari (dalam) ilmu-ilmu lainnya.”[15] 

Jadi seorang hamba tidak akan mungkin meraih kebaikan yang hakiki dalam agamanya kecuali setelah dia memahami ilmu yang mulia ini. Karena mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah landasan utama agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan semua agama yang dibawa oleh para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam[16]. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kunci dakwah (semua agama) yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah ma’rifatullâh (mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya).[17] 

Oleh karena itu, di dalam al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik pedoman hidup bagi manusia, petunjuk terbesar dan paling utama adalah penjelasan tentang nama-nama Allâh yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan (tentang) nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allâh yang lebih banyak dari penjelasan (tentang) makanan, minuman dan pernikahan di surga. Ayat-ayat yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala lebih utama kedudukannya daripada ayat-ayat (tentang) hari kemudian. Maka ayat yang paling agung dalam al-Qur’ân adalah ayat kursi yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat imam Muslim dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau n bersabda kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, “Apakah kamu mengetahui ayat apakah yang paling agung dalam kitabullâh (al-Qur’ân) ?”, Ubay Radhiyallahu anhu menjawab : (Firman Allâh) :

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allâh yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya [al-Baqarah/2:255]

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dada Ubay Radhiyallahu anhu dengan tangan beliau dan bersabda, “Ilmu akan menjadi kesenangan bagimu, wahai Abul Mundzir (Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu)”[18] .

Demikian pula surat yang paling utama (dalam al-Qur’an) adalah Ummul Qur’ân (surat al-Fâtihah), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, dari Abu Sa’id Ibnul Mu’alla Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya (tentang keutamaan surat al-Fâtihah), “Sesungguhnya belum pernah diturunkan dalam (kitab) Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’ân yang seperti surat al-Fâtihah). Inilah tujuh ayat yang (dibaca) berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung yang diberikan (oleh Allâh Azza wa Jalla ) kepadaku.”[19] 

Dalam surat ini terdapat penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh yang lebih agung dari penjelasan (tentang) hari kemudian di dalamnya. 

Dan disebutkan dalam hadits shahih dari berbagai jalur periwayatan bahwa surat:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 

Katakanlah: Dialah Allâh Yang Maha Esa [al-Ikhlas/112:1]

Surat ini sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an.[20] 

Dalam hadits shahih (lainnya), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada seorang shahabat Radhiyallahu anhu yang selalu membaca surat al-Ikhlâs ini dan dia berkata, "Aku mencintai surat ini karena surat ini (menjelaskan tentang) sifat ar-Rahman (Allah Azza wa Jalla), (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Sesungguhnya Allâh mencintainya.”[21] (Dalam hadits ini), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allâh mencintai orang yang senang menyebut sifat-sifat-Nya Azza wa Jalla, dan ini adalah pembahasan yang luas”[22] .

Semua keterangan di atas dengan jelas menunjukkan keutamaan dan keagungan kedudukan ilmu yang mulia ini. Ilmu ini merupakan landasan utama iman sekaligus pondasi agama Islam yang dibangun di atasnya semua kedudukan mulia dan tingkatan tinggi dalam agama. Maka tidak akan mungkin bagi seorang hamba untuk mencapai kebaikan yang hakiki dalam kehidupannya tanpa mengenal Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai macam nikmat kepadanya, baik yang lahir dan batin. 

Tidak akan mungkin seorang hamba bisa beribadah kepada-Nya dengan rasa cinta, mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya tanpa dia mengenal kemahaindahan nama-nama-Nya dan kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya yang semua ini menunjukkan betapa Allâh maha agung dan maha tinggi. Dia satu-satunya yang berhak dibadahi dan tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Azza wa Jalla.[23] 

Salah seorang Ulama salaf mengungkapkan makna ini dalam ucapannya, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” Lalu ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini ?” Ulama itu menjawab, “Cinta kepada Allâh, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”[24] 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]_______
Footnote
[1]. Kitab Raudhatul Muhibbîn, hlm. 406
[2]. Kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 502
[3]. Maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan al Qur-an dan Sunnah.
[4]. Kitab Ighâtsatul Lahfân, hlm. 193 - Mawaaridul amaan).
[5]. Lihat kitab Majmû’ul Fatâwâ (5/26) dan Taisîrul Wushûl, hlm. 11
[6]. Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (5/26).
[7]. Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (17/104).
[8]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 24
[9]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab Syarhu Tsalâtsatil Ushûl, hlm. 13
[10]. Lihat kitab Majmû’ul Fatâwâ (10/84).
[11]. Lihat kitab Sabîlul Huda war Rasyâd, hlm. 401 dan al Qawâ'idul Mutslâ , hlm. 17
[12]. Kitab Madârijus Sâlikîn (3/17).
[13]. Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim tentang pembahasan penting ini dalam kitab beliau Miftâhu Dâris Sa'âdah (1/178).
[14]. Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab al-Fawâid, hlm. 170
[15]. Kitab Miftâhu Dâris Sa'âdah (1/86).
[16]. Lihat kitab Taisîrul Wushûl, hlm. 12
[17]. Kitab ash-Shawâ’iqul Mursalah (1/151).
[18]. HSR Muslim (no. 810).
[19]. HR Ahmad (2/357) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan sanad yang shahih.
[20]. HSR al-Bukhari (no. 5013) dan Muslim (no. 811 dan 812).
[21]. HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).
[22]. Kitab Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli (3/61).
[23]. Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 10
[24]. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul Lahfân (1/72).

Selasa, 06 Agustus 2013

Mengenal Allåh ‘Azza wa Jalla

Siapa Råbbmu?

Apabila anda ditanya : Siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah : “Tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang berhaq disembah dengan benar selain Dia.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Artinya : Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”
[Al-Faatihah : 1]
Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.
Selanjutnya jika anda ditanya : “Melalui apa anda mengenal Tuhan ?” Maka hendaklah anda jawab : “Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.”
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah”
[Fushshilat : 37]
Dan firman-Nya :
“Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam”
[Al-A'raaf : 54]
Tiada yang sesembahan yang berhak disembah melainkan Allåh
Dalilnya, firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”
[Al-Baqarah : 22]
Ibnu Katsir 1 Rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah”.[Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, (Cairo, Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid. 1 hal. 57.]
Bentuk-bentuk peribadahan yang hanya berhak kita tujukan bagi-Nya semata
Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain : Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”
[Al-Jinn : 18]
Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir.
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu”
[Al-Mu'minuun :117]
Dalil-dalil macam Ibadah:
[1]. Dalil Do’a.
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina”
[Ghaafir : 60]
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Do’a itu adalah sari ibadah”
[Shåhih, HR. Tirmidzi]2
[2]. Dalil Khauf (Takut).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman”
[Ali 'imran : 175]
[3]. Dalil Raja’ (Pengharapan).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”
[Al-Kahfi : 110]
[4]. Dalil Tawakkal (Berserah Diri).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”
[Al-Maa'idah : 23]
“Artinya : Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya”.
[Ath-Thalaaq : 3]
[5]. Dalil Raghbah (Penuh Minat), Rahbah (Cemas) dan Khusyu’ (Tunduk).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami”
[Al-Anbiyaa : 90]
[6]. Dalil Khasy-yah (Takut).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku”
[Al-Baqarah : 150]
[7]. Dalil Inabah (Kembali Kepada Allah).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)”.
[Az-Zumar : 54]
[8]. Dalil Isti’anah (Memohon Pertolongan).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”
[Al-Faatihah : 4]
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah”.
[Shåhih, HR. Tirmidzi3]
[9]. Dalil Isti’adzah (Meminta Perlindungan).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh”
[Al-Falaq : 1]
Dan firman-Nya :
“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Penguasa manusia”
[An-Naas : 1-2]
[10]. Dalil Istighatsah (Meminta Pertolongan Untuk Dimenangkan Atau Diselamatkan).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : (Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu”
[Al-Anfaal : 9]
[11]. Dalil Dzabh (Penyembelihan).
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)”
[Al-An'am : 162-163]
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah”
[Shåhih, HR. Muslim]4
[12]. Dalil Nadzar
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana”
[Al-Insaan : 7]
 Catatan Kaki
  1. Abu Al-Fidaa : Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (701-774H – 1302-1373M). Seorang ahli ilmu hadits, tafsir, fiqh dan sejarah. Diantara karyanya : Tafsir Al-Qur’aan Al-Azhim, Thabaqat Al-Fuqahaa Asy Syafiiyyun, Al-Bidayah wa An-Nihayah (sejarah), Ikhtishaar ‘Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih Al-Bukhari (belum sempat dirampungkannya) ↩
  2. Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah” ↩
  3. Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara : bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307 ↩
  4. Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152
[Disalin dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 10-17 Kemetrian Urusan Islam, Waqaf, Da'wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi]
http://abuzuhriy.com/rabbku-adalah-allah/

Buta (Hatinya) Di Dunia , Tafsir Surat Al Isra’ : 72

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
[Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)].
Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas orang-orang yang “membutakan” diri terhadap ajaran-ajaran-Nya, dengan balasan yang sama. Ketika mereka tidak mengacuhkan syariat dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kondisi mereka di akhirat kelak dibuat buta, bahkan lebih buruk dari sebelumnya, dan dalam seburuk-buruk keadaan. Begitulah, al-jazâ` min jinsil-’amal (balasan itu serupa dengan perbuatan sebelumnya).
Jadi, buta dalam ayat di atas ialah buta mata hatinya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah [11] , yang dimaksud dengan buta di sini ialah buta hati, bukan buta mata penglihatan. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“(Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. -al-Hajj/22 ayat 46- , Pasalnya seseorang mengalami buta mata inderanya, namun mata hatinya maka hal ini tidak seberapa berdampak buruk. Meski buta pandangan matanya, ia masih bisa mengingat-ingat sehingga setiap peringatan (pesan) akan membekaskan manfaat baginya. karena mata hatinya masih berfungsi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” ['Abasa/80:1-4].
Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, barang siapa di dunia ini buta terhadap hujjah-hujjah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai keesaan-Nya dalam penciptaan dan pengaturan dunia serta pemeliharaan dunia seisinya, maka tentang urusan akhirat yang belum pernah ia lihat dan saksikan dengan mata kepala, dan hal-hal yang terjadi pada masa itu, niscaya ia akan lebih buta dan tersesat jalan.[12]
Begitu juga barangsiapa ketika di dunia ini buta dari kebenaran, maka ia tidak akan menerima dan tidak tunduk kepadanya; tetapi sebaliknya ia justru akan mengikuti kesesatan. Maka di akhirat nanti, niscaya ia akan lebih buta pula, tidak mengetahui jalan menuju syurga sebagaimana tatkala di dunia ia tidak menapakinya. Dia lebih tersesat dari jalan yang benar daripada di dunia. Semoga Allah melindungi kita darinya [13]. Dia tidak bisa melihat jalan keselamatan, (hingga) tak berdaya untuk melewatinya, sampai akhirnya akan terjerumus ke neraka Jahannam. [14]
Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah menyimpulkan, bahwasanya dalam ayat ini terdapat dalil jika setiap umat akan diseru kepada agama dan kitabnya, apakah diamalkan ataukah tidak? Mereka tidak akan dituntut dengan syariat nabi lain yang tidak diperintahkan untuk mengikutinya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab seseorang kecuali setelah tegak hujjah atasnya.
Dalam lanjutan keterangannya, beliau menambahkan, bagi orang-orang yang suka berbuat kebaikan, kitab mereka akan diberikan dengan tangan kanannya. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang suka berbuat kejelekan, akan mendapatkan kebalikannya. Mereka tidak mampu membaca kitab mereka, disebabkan dahsyatnya kegelisahan dan ketakutan yang mereka rasakan.[15]
PELAJARAN DARI  AYAT DI ATAS
1-Kebutaan terhadap kebenaran dan bukti-buktinya di dunia berimplikasi pada kebutaaan di akhirat dan menjadi faktor yang menjerumus manusia ke dalam Jahannam.
2- Mengikuti pemahaman generasi Salaf merupakan jalan yang paling selamat, penuh hikmah dan berdasarkan ilmu.

Note ; [11]. Adhwâ`ul-Bayân, 3/562
[12]. Jâmi’ul-Bayân, 15/159.
[13]. Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, 5/100.
[14]. Aisarut-Tafâsir, 1/688.
[15]. At-Taisîr, 494.
Maraji`: Oleh
Ustadz Ashim Bin Musthafa
http://ilmuislam2011.wordpress.com
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya ( An Nisa : 48)"

Nasehat Imam Empat Mazhab," Jangan fanatik kepada kami "!

☛ Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

☛ Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

☛ Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

☛ Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)

Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).

Selengkapnya klik DI SINI

Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah kita taqlid buta kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?


Ilmu & Amal

Tuntutan ilmu adalah amal & tuntutan amal adalah ilmu . Amal hati/batin dinilai dengan keikhlasan & amal lahir dinilai dengan ketaatan mengikuti sunnah Rasul

Tauhid

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran- lembaran telah kering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata,” Hadist ini hasan shahih). ☛ ☛ ☛ “Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”(Dalam riwayat selain at-Tirmidzi)

Tes Gannguan Jin Dalam Tubuh

Sesungguhnya syirik itu melenyapkan amalan dan menyebabkan kekal di dalam neraka

Gerakan Sholat Yang Benar

www.loogix.com. Animated gif